Sinar keemasan masuk melalui jendela kamarku, seperti helaian kain sutera yang lembut dan hangat, tapi cukup untuk membangunkanku dari tidurku. Kulirik jam sebentar,
“uhh, masih jam 5” gumamku.
Aku harap aku bisa tidur lagi di kasurku yang empuk, tapi ternyata aku salah. Seseorang mengetuk-ngetuk pintu kamarku.
“Riella, bangun riella” Kata suara itu.
“Uhh, siapa sih?! Baru juga jam 5” gerutuku.
Tiba-tiba suara ketukan itu berhenti”akhirnya” pikirku. Tak berapa lama tiba-tiba seseorang mengguncang-guncangkan badanku,
“Ayo bangun ri, bangun” kata suara itu,
Aku berusaha membuka mataku, berat , sekilas ku lihat cowok di depanku,
“hmm, hidung mancung, rambut hitam jabrik, mata sipit, sepertinya aku kenal” Gumamku. Tiba-tiba cowok itu pergi, beberapa saat kemudian ia kembali, ku buka lagi mataku,
” hmm…air, untuk apa??”gumamku lagi dengan mata yang merem-melek, “AIR!!! Untuk ngguyur gue!!” teriakku kaget, dan sepertinya teriakan ku itu cukup membuat cowok Japanese-Indo di depanku itu menutup telinganya.
“aww, this is hause, not a jungle, and I think you are a lady, not a Tarzan.” Katanya sambil tertawa puas, dan aku hanya bisa ber”hah?!” ria, kemudian ia melanjutkan perkataannya.
“Yah, lo kok bangun disaat yang gak tepat sih, tunggu gue nguuyur lo dulu napa?.” Katanya kecewa
“Heh?! Do you think I’m a flower?! So you have to watering me?!” Kata ku jengkel.
“Hah?! Hahaha , You said you are a flower?! Haha, yaya, I think you are a flower, but do you know what flower you are?” katanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
” Ihh, sok cool banget sih cowok ini.” Kataku dalam hati.
“What?! Rose? Dandelion? Orchid? Oh, or maybe Tulip?” kataku berusaha menebak
“no,no,no.” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia mendekat dan membisikkan sebuah kata “RAFLESIA” katanya pelan dan seketika itu pula mataku langsung melotot ke arahnya , dan yang lebih menyebalkan lagi, cowok itu malah tertawa terpingkal-pingkal .
“Wait, what did you say?” Aku berusaha mencerna perkataanya tadi, berharap saja semoga yang tadi aku dengar itu salah.
“you know.. R-A-F-L-E-S-I-A, RAFLESIA.” Ejanya dengan enteng.
“DAVIIIIDDDD!!!!” teriakku dengan jengkel, ku lempari dia dengan bantalku, sayangnya meleset, ia sudah keburu keluar, dan lemparanku itu hanya mengenai pintu berwrna biru muda yang penuh dengan tempelan stiker. Kemudian pintu kamarku di buka,
“Cepat wudhu, kita sholat subuh berjamaah.” Kata David . “Iya-iya” Kataku dan bergegas mengambil air wudhu.
….
“Riella, cepat semuanya sudah menunggu, mama tunggu diruang makan ya.”Kata mamaku.
“Iya ma” Kataku
.Setelah aku yakin semuanya siap, aku bergegas menuju ruang makan,tapi tiba-tiba aku mendapat sebuah ide.
“pokoknya gue akan buat semua mata tertuju padaku”gumamku.
Dan benar saja, aku menuruni satu persatu anak tangga, dengan anggun, atau lebih tepatnya, sedikit angkuh, hehehe.
“Yups, tinggal sedikit lagi,tinggal 4 buah anak tangga lagi”pikirku.
Tapi tiba-tiba “bruggggg” aku jatuh, dan bunyinya cukup keras, sehingga membuat mama berlari-lari kecil menghampiriku.
“Kamu gak papa kan sayang? Ada yang sakit?” Tanya mamaku cemas
.”Ah, hehe gak ada kok ma.”Kataku berbohong
“sumpah, sakit banget, jatuh kayak tadi” keluhku dalam hati. aku lalu melirik ke David,sial!! Dia malah sibuk menahan tawanya, dan ketika pandangan kami bertemu, ia malah membeletkan lidahnya.
”Menyebalkannnn!!”(suara jertitan hati Riella)
***
Akhirnya aku tiba juga disekolahku yang baru, sebenarnya aku bosan pindah-pindah tapi karena ayahku dipindah tugaskan dari tempatnya yang lama, ya dengan sangat terpaksa kami harus pindah.
Dan kenapa anak ini(David) juga ikut pindah, bukannya dia tetap stay saja di Batam, memang ayahku dan ayah David adalah sahabat karib, dan menurut cerita mamaku, mereka sudah bersahabat sejak di bangku SMA, jujur aku salaut dengan persahabatan beliau.
Tapi kenapa aku malah tengsin dengan David?! Seharusnya aku bisa bersahabat dengan dia, secara orang tua kami akrabnya minta ampun, makanya ketika David juga minta untuk pindah bersama kami orang tuanya memperbolehkan.
Ok kita lupakan masalah David, sekarang focus dengan sekolah barunya. Baru saja aku hendak turun dari mobil, tapi kemudian ku urungkan niatku itu karena mendengar celotehan David. “Hati-hati tuan putri jangan sampai jatuh lagi kayak tadi pagi.”
Kutatap dia dengan tatapan sinis, tapi dia malah mesam-mesem gak jelas, dan malah melanjutkan perkataannya “Ehmm, kalau boleh request, besok diulangi lagi yah, sumpah lo konyol banget tadi.hahaha”. Karena sebal aku langsung keluar dan membanting pintu mobil dengan kasar.
Beberapa saat kemudian…
“Aduh, ini dimana ya?” Pikirku, mana tadi aku jalannya duluan lagi. David juga, dimana sih tu anak?. Kalau lagi butuh aja gak ada, gantian gak butuh, malah muncul terus.(sekedar info:Riella hobby kesasar).
“Maaf, ruang kepala sekolah dimana ya?” Tanyaku pada seorang siswi.
“Ruang Kepala sekolah? Itu” Tunjuk gadis itu,aku pun mengikuti arah yang dituju gadis itu
“Hah?! Ruang kepala sekolahnya tepat dibelakangku?”Teriakku dalam hati tentunya,kenapa aku gak nyadar dari tadi.
“Oh, hehe, makasih ya.”Ucapku kemudian aku bergegas pergi menuju ruang kepala sekolah.
“Nak Riella, ini Bu Nunung, beliau yang akan menjadi wali kelas nak Riella nantinya.”Kata pak Kepala sekolah.
Beliau juga memberitahu kelasku nantinya. Dan untung saja, aku kesananya ditemani bu Nnung, dijamin aman sampai tujuan.
“Nah, nak Riella, ini kelasnya, X1”kata Bu Nunung.
“Loh, ini kan kelas yang tadi..”Kata ku dalam hati, ya itu adalah kelas gadis yang tadi aku tanyai, jadi… dari tadi aku hanya mondar-mandir gak jelas.
“ Nice ”ucapku pelan.
Aku pun masuk, dan memperkenalkan diriku mulai dari nama, asal sekolah, dan tempat tinggal. Beliau lalu menunjukkan tempat dudukku. Dan pelajaran pun dimulai.
***
Bell tanda istirahat pun berbunyi, dan aku penasaran kira-kira dimana kelas David.
“Riel..” sapa seeseorang.
Ya ampun, panjang umur tuh anak.
“Eh, kelas lo dimana? Lagian kok lo tahu kelasku disini?” Tanyaku pada David yang sudah duduk dibangku kosong tepat didepanku.
“Kelas gue di sebelah kelas lo La, dan lagi dari tadi gue ngikutin lo tahu”Katanya
“Dari tadi?” Tanyaku menyelidik
“Iya, mulai dari lo yang muter-muter gak jelas nyari ruang Kepsek yang padahal ada dibelakang lo,sumpah lucu banget.”Katanya sambil tertawa cekikian.
“Lah! Kalo dari tadi lo ngikuti gue, napa gak bantuin? Malah ngebiarin gue nyasar.” Kataku manyun
“Ya ampun Riel, gue kan gak mungkin ngelewatin kesempatan emas untuk melihat tampang cengoh lo, yang lagi nyasar, lagian londot di pelihara.”Katanya dengan enteng
“DAVIIDD!!” aku lalu menimpuknya dengan bukuku, anak ini sudah keterlaluan, gak bosen apa, dari aku bangun sampai sekarang bisanya cuma ngejek doang. Dan karena sebal aku pun pergi keluar kelas, ingin rasanya lepas dari David sehari aja.
“Hi.” Sapa seseorang, sontak aku menoleh ke arah datangnya suara itu
“Oh hi, Lo cewek yang tadi kan, makasih ya, udah nunjukin jalan” Kataku pada gadis Chinese itu.
“Oh, gak papa, kenalin gue Meidy, lo Riella kan?”
“Eh, iya,” Kataku
“Oh ya, lo mau ikut gue ke kantin?” ajak Meidy, dan aku mengiyakan.
***
Well, hari pertama masuk sekolah berjalan dengan baik. Setidaknya aku sudah dapat teman, dan sepertinya anaknya pun asik.
“Riell.” Sapa Meidy
“Oh, Mei, ada apa?” tanyaku
“ Ini, gue mau ngenalin lo sama seseorang. Ikut ya.” Kata Meidy sambil menarikku. Sebenarnya aku gak mau, tapi berhubung badan Meidy lebih besar dari aku, jadi dengan sangat terpaksa aku mau.
“Riell, kenalin ini Daichi, Daichi, ini Riella.” Kata Meidy.
Aku dan Daichi pun bersalaman, dan setelah ku lihat-lihat. Ternyata Daichi cakep juga, gak kalah cakep disbanding David. “Loh, kok gue jadi kepikiran David!! Hapus, hapus.” Pikirku
“Riell, David ini kakak gue, dia juga sekolah di sini. Dan waktu gue certain tentang lo yang kesasar ke ruang kepsek, dia jadi penasaran sama lo.” Kata Meidy.
“Oh, hehe.” Aku gak habis pikir dengan Meidy, bisa-bisanya dia menceritakan kejadian memalukan itu kepada kakaknya. Aduhh.
Untung saja aku tidak berlama-lama di situasi itu, soalnya tiba-tiba saja David datang dan ngajak aku ke kantin. Dan Meidy pun ikut.
“Lo ngapain sih, baru juga sehari disini udah ganjen ama kakak kelas.” Ketus David
“Eh, lo itu ga sepantasnya ngomong gitu ke gue.” Kataku. Ihh, ni cowok kok nyebelin banget sih.
“Eh, Vid, ini bukan salah Riella kok, tadi gue yang maksa dia. Jadi lo ga perlu marah-marah gitu ke Riella.” Jelas Meidy.
“Tuh, lo dengar kan?”
“Iya, iya.Sorry deh” Kata David.
“Aduh Vid, gue minta maaf ya, gue ga tahu, kalo ternyata Riella itu pacar lo. Sorry banget.” Kata Meidy meminta maaf.
“Uhukk, uhukk.”
“ Lo napa Riel ?” Tanya Meidy.
“Gue.. keselek es.” Kataku susah payah.
“Hah?! Gimana nih Vid.” Meidy panic. David lalu menyuruhku meminum teh hangat.
“Aduuh, sakit tenggorokan gue.” Keluhku, begitu esnya udah ketelan.
“ Makanya kalo minum itu hati-hati.” Kata David.
“Ya maaf, gue kan syok aja dengan omongan Meidy barusan” Kataku
“ Loh, gue salah ngomong yang mana?” Tanya Meidy
“ Itu, soal gue dan David pacaran. Sebenarnya kita ga pacaran kok.” Jelasku.
“Oh, maafin gue deh.” Kata Meidy.
***
Tiga bulan sudah aku sekolah di SMA Global ini. Dan itu membuat aku dan Meidy semakin dekat, dan bukan hanya itu aku dan Daichi pun semakin dekat. Dan entah mengapa sepertinya aku jadi suka dengan Daichi.
Malam itu, aku, David dan kedua orang tuaku sedang berkumpul diruang keluarga.
“Riell, gimana sekolahnya? Kamu udah seneng kan disekolah yang baru?” Tanya papa.
“Baik kok pa. iya Riel udah betah kok.” Kataku
“Oh ya, Riel belum punya pacar kan ?” Goda mama.
“Mama, ya ga lah ma” Kataku
“Ohh, bagus deh, berarti ga ada alasan buat kamu nolak permintaan mama sama papa.” Kata Mama
“Loh, emang mama sama papa punya permintaan apa ?” tanyaku
“Gini Riel, David, kalian kan tahu, kalau keluarga kita dengan David itu dekat, jadi..”
“Jadi apa om ?” Tanya David.
“Jadi kami dan orang tua David, berencana untuk menjodohkan David dengan Riella. “ Kata Mama.
“Apaa !” Teriakku kaget.
“Loh, kalian berdua ga punya pacar kan?jadi mama rasa ga ada alasan kalian buat nolak permintaan mama sama papa.” Jelas mama.
“Iya sih ma, tapii , tapii..” Kataku ragu-ragu.
“Kamu mau bilang kalau kamu gak cinta sama David.” Tebak papa tepat sasaran.
“ Hehehe, iya pa, ma.” Kataku
“Ya ampun Riel, cinta itu bisa tumbuh, apalagi kalau nanti kalian sudah terbiasa bersama, dan mama kira, kalian juga udah kenal lama kan, jadi pasti akan lebih mudah.” Kata Mama.
“Aduh, gue mesti ngeles apa lagi nih?” Pikirku bingung . “ Mana David dari tadi ga comment sama sekali.”
“Riel, ayo lahh, mama ingin besanan sama mama David, mau ya?” Rayu mama.
“Ya ampuun !! mama pake melas lagi, masa gue tolak.” Kataku dalam hati.
“Hmmm, iya deh ma, Riel akan coba.” Kataku dengan terpaksa. Ku kira David akan terkejut dengan jawaban gue, ternyata tuh anak tetep aja cuek bebek.
“Nah gitu dong , itu baru anak papa sama mama.” Kata papa.
“Oh ya, nak David ga keberatan kan ?” Tanya papa.
“Oh, ga sama sekali kok om, tante.” Kata David , sambil tersenyum manis, yang membuat aku ingin muntah saja.
“Sok manis !” Ketusku pelan. Dan tiba-tiba David melirikku tajam. Dan aku langsung masang muka pura-pura ga tahu.
“Loh kedengaran ya? Padahal gue ngomongnya pelan banget.” Pikirku.
***
Gara-gara pembicaraan dengan papa dan mama tadi. Aku jadi gak bisa tidur, dan karena aku bosan di kamar. Makanya aku milih duduk-duduk di samping kolam renang.
“ Hmmm,kalo gue , ama David pacaran,?!” Gumamku.
“Hahaha, Riella londot, tukang nyasar, polos, gampang di boongin.”(David dalam banyan Riella)
“Hwaaaaa, ga mauuu.” Kataku.
“Eh, lo jangan membayangkan yang macam-mcam tentang gue.” Kata David, sambil duduk disampingku.
“Mampus ! kok dia tau, gue lagi membayangkan yang macam-macam tentang dia. Jangan-jangan… David bisa telepati.” Pikirku
“Vid, lo bisa telepati ya?” Tanya Riella.
“Hmm, kok lo nanya gitu.”
“Soalnya tebakan lo barusan bener. Hayoo lo pasti bisa telepati.” Kata Riella polos.
“Hmmmpp, hahahahahaha.”
“He, lo kok ketawa sih ?” Tanyaku bingung.
“Lagian lo sih, nanyanya aneh-aneh, jelas gue ga punya. Gue tadi Cuma asal nebak doang. Emang dasar londot.” Kata David.
“David !!! please stop call me londot again, OK ?” Kataku.
“Hmm, kayaknya ga bisa deh, hahaha, oh ya, soal pembicaraan tadi malam, ga usah lo pikirin. Gue juga tahu lo suka kan sama Daichi” Kata David.
“Eh, lo kok tahu?”
“Gue kan udah kenal lo dari kecil Riel, masa hal sekecil itu aja gue ga tahu. Lo gimana sih.” Jelas David.
“Hmm, iya sih, tapi gimana kalo orang tua kita tetep maksa ? lagian gue juga ga ada alasan buat nolak permintaan mereka.” Kataku lesu.
“Hmm, gimana kalo kita pura-pura pacaran aja? Trus kalo lo udah jadian ama Daichi, kita tinggal putus, trus lo jelasin deh ama ortu lo. Gue yakin mereka pasti mau ngerti.” Saran David.
“ Ituu, ide yang gila, tapi gue suka.” Kataku.
***
Sebulan sudah aku dan David pacaran, atau lebih tepatnya pura-pura pacaran. Iya kami memang sepakat, untuk pacaran hanya di rumah, biar mama sama papa gak curiga. Dan kalo di sekolah, kami ngejalani aktifitas kami sendiri-sendiri. Dan baru kali ini aku rasa David itu gak seburuk yang aku kira.
“Riell, gimana hubungan lo ama kakak gue ?” Tanya Meidy.
“Hmm, baik-baik aja kok Mei, tapi emang ga ada perkembangan sama sekali.” Kataku Lesu.
“Yahhhh, padahal gue pengen banget lo ama kakak gue jadian Riell.” Kata Meidy gak kalah lesu.
“Gak beda Mei, hehe”
“Hahaha, lo tuh ya, hmm, tapi gue rasa kakak gue juga suka deh ama lo.” Kata Meidy
“Oh ya?? Wah , berita bagus nih.”
Dreeett, Dreeeettt.
From : Daichi-san
Hi Riel? lo lg di mana nih ?
“Mei, kakak lo panjang umur, nih dia sms gue.” Kataku girang.
“Oh ya? Cepet balas.” Kata Meidy gak kalah girang.
To : Daichi-san
Hi jga gue lagi d kls nih ama Meidy, emang ada apa?
From : Daichi-san
Ga ada apa-apa sih. Oh ya, k kantin bareng yuk ? ajak Meidy skalian. Gue samperin k kls lo ya?
To : Daichi-san
Oh ok , gue tunggu ya
“Mei, kakak lo ngajak makan bareng d kantin.”
“Wahh, kesempatan bagus.”
***
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan buat aku, soalnya nanti sore aku bakalan jalan ama Daichi, yeyeye !
“Semuanya Ok, tinggal berangkat.”
Sesampainya di Mall. .
“Aduh, gue kan ga pernah ke sini sebelumnya, gimana nih.” Kataku mulai panic. Apa aku coba nelpon Daichi aja suruh jemput gue. Tapi setelah ku cari-cari hp ku.
"Ahhhh, hp gue tadi kan di charge, hwaaaa, gimana caranya gue nelpon Daichi. Mana gue ga hafal no.nya. dan lagi, ini di mana sih?!”. Pikirku
Udah sejam aku muter-muter seluruh mall, tapi tetep aja Daichi ga ketemu. Aku semakin panic.
“Gue benci nyasarrrrrr!!!” Jeritan hati Riella.
“Hwaaaa, gue mau pulang, pulang.” Gerutuku
“Hufftt, akhirnya ketemu juga.”
Aku menoleh ke arah datangnya suara itu.
“Daa… david.” Kataku.
“Iya, nih hp lo.” Kata David sambil nyerahin hp ku.
“ Lo kok tau gue di sini ?” Tanyaku
“ Gue tau dari sms Daichi, sorry gue baca sms lo. Soalnya waktu gue masuk ke kamar lo buat pinjam pr, lo nya ga ada. Apalagi gue lihat d kamar lo banyak tumpukan baju. Gue langsung mikir lo pasti ada jalan. Dan karna gue kenal lo udah lama, jadi gue juga tahu , lo pasti kesasar.” Jelas David.
“Daviidd, gue ga tau harus bilang apa, makasih banget.” Kataku.
“Iya, makanya lain kali kalo mau pergi ngajak teman, udah tahu lo tuh tukang nyasar. Dasar , lo jadi ketemu Daichi ga?
“Hmmmm, ga ah Vid, paling Daichi udah pulang. Soalnya gue kesasarnya udah lama banget.” Kataku kecewa.
“Tenang aja, kapan-kapan lo pasti bisa jalan ama Daichi.” Kata David sambil menepuk bahuku lembut.
“Hoaammmm, karena kita udah terlanjur sampe sini, ayo main.!!” Kata David sambil menarikku ke pusat permainan.
***
“Hmm, kira-kira Daichi marah ga ya sama gue?! Gue samperin ke kelsnya aja deh.” Pikirku. Aku pun bergegas menuju kelas Daichi X1A2 .
“Eh Chi, gimana rencana lo lancar ?”
“Hah?! Ga terlalu sih, padahal tinggal dikit lagi gue nembak dia, trus dia terima. Trus gue menang deh.” Kata Daichi
“Gila lo, kalau gini, bisa-bisa yang menang taruhan elo, hahaha.”
“Taruhan?!” Kataku perih. Aku pun masuk ke kelas Daichi.
“Apa maksut taruhan itu ka Daichi.” Kataku sambil menatap Daichi tajam. Dari ekspresinya bisa ku lihat kalau Daichi syok.
“Jadi selama ini, lo ndeketin gue demi taruhan itu ?! gue ga nyangka ternyata semua pehatian yang lo berikan itu palsu ! lo jahat Chi.” Kataku kemudian berlari. Bisa ku dengar Daichi berlari mengejarku. Tapi aku berlari semakin kencang hingga menabrak seseorang.
“Loh Riel lo kenapa?” Tanya David
Tapi aku tetap lari, menuju kelasku. Sesampainya di kelas aku menangis di pelukan Meidy.
“Loh Riell, lo kenapa?” Tanya Meidy cemas.
“Riella, gue minta maaf.” Kata Daichi setibanya di kelasku.
“Kak, emang lo apakan Riella?” Tanya Meidy Bingung.
“Gue ga,bermaksut seperti itu Riell, hanya saja..”
“Hanya saja apa?! Lo tuh ga mikir apa ?! Lo seenakknya saja jadiin gue taruhan. Lo piker gue barang yang ga punya perasaan ? lo pikir dong . jangan seenaknya sendiri.” Kataku emosi.
“Jadi kakak Cuma jadin Riella taruhan. Kakak tega.” Kata Meidy ga kalah emosi.
“Dengerin penjelasan gue dulu Riell, Meidy.” Kata Daichi
“Lo ga usah ngejelasin apa-apa lagi Chi, sekarang gue minta lo pergi dari sini, gue ga mau kenal lagi sama lo.”
“Tapiii Riella..”
“Daichi, sebaiknya lo pergi deh.” Kata David datar. Akhirnya Daichi pun pergi.
“Riell, sorry ya, gue ga tahu kalo ternyata kakak gue Cuma jadiin lo taruha, gue minta maaf banget.” Kata Meidy menyesal.
“Udah Mei, ga papa kok.” Kataku
***
Tiga bulan berlalu sejak kejadian itu, dan aku juga udah maafin Daichi, ya walaupun aku tetap masih ga mau mendengar penjelasan Daichi. Buat apa aku dengerin toh semuanya udah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah LIBURAN !! Yey, akhirnya papa, mama , aku dan David liburan ke Jepang. Impianku untuk melihat musim gugur akhirnya dapat terwujud. YIPPII !!
“Riell !! Lo ga usah lari-lari deh !! ntar kesasar baru tau rasa !” teriak David.
“Ga akan Vid, kan ada lo !” Kataku
“ Eh lo kira ini Jakarta ato Batam ?! Ini Jepang Riell. Gue juga baru pertama kali ke sini. Lagian lo kalo mau nyasar milih tempat yang tepat dong.” Kata Daichi
“Vid, nyasar itu ga bisa milih-milih, itu terjadi dengan sendirinya, kesasar adalah kejadian yang natural.” Kataku sok bijak.
“ Iya natural, ntar nunggu lo nangis itu baru namanya natural.” Kata David.
Aku pun berhenti berlari , pandanganku tertuju pada pohon-pohon yang berwarna kuning, merah, dan orange yang sedang berguguran. Memang musim gugur adalah musim yang sangat menyenangkan. Senang rasanya melihat daun warna-warni berguguran kemudian terbang tertiup angin ke mana-mana.
“Cantik ya Vid.” Kataku. Setelah kutunggu beberapa saat kok David gak menjawab yah.
“Vid.”Kataku dan langsung menoleh ke belakang. Loh kok David gak ada. Jangan bilang kalo aku kesasar.
“Viddd, David !! lo dimana sih ? Vid, jangan becanda dong, ga lucu tau !!” Teriakku, sambil memutari taman tersebut. Dan hasil yang aku dapat tetap nihil.
“Hwaaaa,, yang bener aja masa gue kesasar, di Jepang pula. Gimana nihh.” Gerutuku, sambil duduk di bangku taman. Tiba-tiba hand phone ku bergetar.
From : David
Lingkaran pelangi yang kehilangan satu warnanya.
“Apaan sih ini.” Kataku, aku pun membalas smsnya dan menanyakan keberadaannya. Tapi David tidak membalasnya. Menyebalkan! Aku pun hanya duduk termenung, memikirkan sms David, “Pelangi ? perasaan disini ga ada pelangi, dan apa maksudnya dengan kehilangan sebuah warna? “Arrggghhhhhh.!” Gerutuku, aku pun menundukkan kepalaku.
Beberapa saat kemudian…
“Ya ampun, kok gue ga kepikiran dari tadi.” Kataku , kemudian berlari menuju sebuah tempat, seolah aku sudah tahu apa maksut sms David. “Yang dimaksud David pelangi, mungkin daun yang berguguran ini,ada warna merah, kuning, hijau, dan mungkin kehilangan sebuah warna , maksudnya gue, gue kan pakai baju biru, dan tempat gue lihat pohon-pohon yang membentuk lingkaran itu, tepat di jembatan dekat kolam.”
Tapi sesampainnya di sana aku tidak menemukan siapapun, dan tiba-tiba aku mendengar sebuah petikan gitar, aku pun menuju ke sumber suara itu. Semakin lama semakin jelas.
“David!!” Kataku pelan. Ternyata suara petikan gitar itu datangnya dari David. Dan yang membuat aku tersentuh, lagu yang ia nyanyikan. Sebuah lagu dari ungu dengan judul “Laguku”.
“mungkin hanya lewat lagu ini
akan ku nyatakan rasa cintaku padamu, rinduku padamu tak bertepi
mungkin hanya sebuah lagu ini
yang slalu akan ku nyayikan sebagai tanda betapa aku inginkan kamu”
David pun berhenti bernyanyi, ia lalu berjalan medekatiku.
“Riell, gue rasa lagu yang baru aja gue nyanyiin, udah mewakili semua perasaan gue, dan tepat di sini, diantara pohon-pohon yang mengelilingi kita ini, gue harap cinta gue ke lo akan sama seperti lingkaran pepohonan ini, tak berujung, dan tak akan putus, with all my hearth, will you be my girlfriend?” Tanya David
Aku pun menjawab pertanyaan David dengan menyayikan lagu yang sama, David pun tersenyum.
“Sepertinya satu impian lo udah tercapai.” Kata David sambil tersenyum jail.
“Yups my Autumn with Love.” Kataku sambil tersenyum.
“ And now, It also became My Autumn with Love.” Kata David lalu tersenyum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar